Kamis, 10 Oktober 2019

ARTIKEL GANGGUAN BERBAHASA GAGAP


ARTIKEL GANGGUAN BERBAHASA GAGAP

Nama              : Hasna Nurjilan
NIM                : A1D117008
E-mail             : jilan0912@gmail.com


PENGANTAR
Bahasa merupakan alat komunikasi utama dalam kehidupan manusia, karena tanpa bahasa kehidupan sosial antar individu yang membentuk kelompok masyarakat sulit untuk dibina. Karena dengan bahasa manusia mampu berkomunikasi dan bekerjasama (Kridalaksana: 2005:4). Proses berbahasa bersifat kompleks dikarenakan proses dari berbahasa itu sendiri menandakan berfungsinya berbagai organ yang mempengaruhi mekanisme berpikir, berbicara, atau mengolah ide-ide ke dalam bentuk kata. Pengaruh besar dalam kegiatan berbahasa yaitu terletak pada sistem kerja otak dikarenakan otak adalah sentral dari seluruh kegiatan tubuh manusia. Jika sistem kerja otak terganggu, maka kegiatan berbahasa pun akan terganggu.
Psikolinguistik sebagai bidang ilmu antardisiplin antara psikologi dan linguistik memandang bahasa sebagai alat komunikasi yang berasal dari hasil kerja otak melalui hasil pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Hasil kajian psikolinguistik banyak dimanfaatkan dalam memahami pemerolehan bahasa pertama maupun dalam pembelajaran bahsa kedua, termasuk di dalamnya permasalahan atau gangguan-gangguan yang terjadi pada hal-hal yang berkaitan dengan bahasa maupun berbahasa. Salah satu gangguan dalam berbahasa ialah gagap.

PEMBAHASAN
Gagap atau stuttering adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat dapat diselesaikan. Seringkali si pembicara tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, hanya dengan susah payah berhasil mengucapkan konsonan atau vocal awalnya saja. Lalu dia memilih kata lain, dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut meskipun dengan susah payah.
Menurut Tri Gunardi, S.Psi., gagap merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Kalau dalam komunikasi, gagap merupakan salah satu gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan ujaran.
Jadi, gagap merupakan suatu kondisi dimana si penderita mengalami gangguan berbicara dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, hingga kegagalan dalam mengeluarkan kata-kata.

Berdasarkan tipenya, gagap dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
1.      Gagap Perkembangan, Gagap perkembangan biasa terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun dan remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Kondisi gagap pada periode usia 2 sampai 4 tahun merupakan keadaan yang masih wajar terjadi karena hanya sebagian dari proses perkembangan bicara anak. Gagap ini muncul karena kontrol emosi penderita yang masih relatif rendah serta antusiasme anak untuk mengemukakan ide-idenya belum disertai dengan kematangan alat bicaranya. 
2.      Gagap Sementara atau Gagap Ringan, Gagap sementara ini biasanya dialami oleh anak-anak usia 6 sampai 8 tahun. Umumnya gagap jenis ini disebabkan oleh faktor psikologis. 
3.    Gagap Menetap. Gagap menetap ini terjadi pada anak usia 3 sampai 8 tahun. Biasanya gagap ini disebabkan oleh faktor kelainan fisiologis alat bicara dan akan terus berlangsung.

Terdapat 3 penyebab terjadinya gagap, yaitu: :
Ø  Pertumbuhan. Gagap umumnya terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Gagap yang muncul merupakan bentuk keterbatasan dalam menyampaikan suatu maksud melalui bahasa atau perkataan. Hal ini tergolong wajar dan akan hilang dengan sendirinya.
Ø  Neurogenik. Gagap neurogenik adalah gagap yang disebabkah oleh gangguan pada otak, saraf, dan otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit, misalnya stroke.
Ø  Psikogenik. Gagap psikogenik tergolong jarang terjadi. Tipe ini gagap disebabkan oleh adanya trauma atau masalah dalam pemikiran atau penalaran.

Solusi mengatasi gagap
v Terapi bicara. Terapi ini berfokus pada mengurangi frekuensi munculnya gejala gagap saat berbicara. Pasien akan diberikan arahan untuk meminimalkan munculnya gagap dengan berbicara lebih perlahan, mengatur pernapasan saat berbicara, dan memahami kapan gagap akan muncul. Terapi ini juga dapat menghilangkan kegelisahan pada penderita yang sering muncul ketika akan melakukan komunikasi.
v Terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku koginitif bertujuan untuk mengubah pola pikir yang dapat memperburuk kondisi gagap. Selain itu, metode ini juga dapat menghilangkan stres dan rasa gelisah yang dapat memicu gagap.
Menggunakan peralatan khusus. Pasien dapat menggunakan peralatan khusus yang bertujuan untuk mengendalikan gejala. Salah satu alat yang sering digunakan untuk mengendalikan gejala gagap adalah DAF atau delayed auditory feedback. Alat ini bekerja dengan mengulang apa yang penggunanya ucapkan, sehingga membuat pengguna seperti berbicara secara serempak dengan orang lain.


DAFTAR PUSTAKA
Karkono, dkk. Produksi Kalimat Pada Penyandang Gagap. Universitas Negeri Malang.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Indah, Nur Rohmania. 2012. Gangguan Berbahasa Kajian Pengantar. Malang: UIN MALIKI-Press.

Minggu, 09 September 2018

Materi 1


“HAKIKAT KETERAMPILAN BERBAHASA”

A.     KETERAMPILAN BERBAHASA
Keterampilan berbahasa indonesia mencakup: keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan menulis, dan keterampilan membaca. Keterampilan berbahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi. Komunikasi dapat berupa komunikasi satu arah, komunikasi dua arah, dan multi arah.
Komunikasi satu arah terjadi ketika seseorang mengirim pesan kepada orang lain, sedangkan penerima pesan tidak menanggapi pesan tersebut, seperti khotbah, dan berita TV dan radio.Komunikasi dua arah terjadi ketika seseorang mengirim pesan (mengeluarkan ide, gagasan, pendapat) dan penerima pesan (pendengar) menanggapi isi pesan. Komunikasi multi arah ketika pemberi pesan dan penerima pesan yang jumlahnya lebih dari dua orang yang menanggapi. (Abd. Gafur, 1:2009)Dalam kegiatan komunikasi, pengirim pesan aktif mengirim pesan yang diformulasikan dalam lambang-lambang berupa bunyi atau tulisan, proses ini disebut dengan encoding. Selanjutnya si penerima pesan aktif menerjemahkan lambang-lambang tersebut menjadi menjadi bermakna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh, proses ini disebut decoding

B.     ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA
Sehubungan dengan penggunaan bahasa, terdapat empat keterampilan dasar yaitu : menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keempat keterampilan tersebut saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya.
·         Menyimak adalah suatu proses suatu proses kegiatan mendengarkan lambing lisan-lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interprestasi untuk memperoleh informasih, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
·         Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan , ide dan perasaan.
·         Membaca yaitu suatu proses penyerapang informasih dari sebuah karya tulis untuk mengetahui informasih yang ingin disampaikan penulis.
·         Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut (Bryne, 1993)

Lebih lanjut Bryne menyatakan bahwa mengarang pada hakikatnya bukan sekedar menulis simbol-simbol sehingga berbentuk kata, dan kata-kata tersusun menjadi kalimat menurut peraturan tertentu, akan tetapi mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap dan jelas sehingga buah pikiran tersebut dapat dikomunikasikan kepada pembaca.

C. Keterkaitan Antar Aspek Keterampilan Berbahasa
a.      Hubungan menyimak dan berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung. Menyimak bersifat reseftif, sedangkan berbicara bersifat produktif. Misalnya komunikasi yang terjadi antar teman, antar penjual dan pembeli, atau dalam sebuah forum diskusi. Dalam hal ini  A berbicara dan B mendengarkan. Setelah itu giliran B yang berbicara dan A yang mendengarkan. Namun adapula dalam suatu konteks bahwa komunikasi itu terjadi dalam situasi noninteraktif, yaitu suatu pihak saja yang berbicara dan pihak lain hanya mendengarkan.
b.      Hubungan menyimak dan membaca
Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat resesif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktifitas berbahasa ragam tulis. Penyimak maupun pembaca melakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsur-unsur bahasa yang berupa suara (menyimak), maupun berupa tulisan (membaca) yang selanjutnya diikuti dengan proses decoding guna guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide, atau informasi.
c.      Hubungan membaca dan menulis
Membaca dan menulis merupakan aktifitas berbahasa ragam tulis. Menulis adalah kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca adalah kegiatan yang bersifat reseptif. Seorang penulis menyampaikan gagasan, perasaan, atau informasih dalm bentuk tulisan. Sebaliknya seorang pembaca mecoba memahami gagasan, perasaan, atau informasih yang disajikan dalam bentuk tulisan.
d.       Hubungan menulis dan berbicara
Berbicara dan menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara merupakan kegiatan ragam lisan, sedangkan menulis merupakan kegiatan berbhasa ragam tulis. Menulis pada umumnya merupakan kegiatan berbahasa tak langsung, sedangkan berbicara merupakan kegiatan bahasa yang bersifat langsung. Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses berkomunikasi yang dalam proses itu terjadi pemindahan pesan dari suatu pihak (komunikator) ke pihak lain (komunikan). Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam simbol-simbol yang dipahami oleh kedua belah pihak (Abd. Gafur, 6 :2009).



Materi 2




“HAKIKAT MENYIMAK”

A. Konsep Menyimak
Pengertian menyimak sangat dekat maknanya dengan mendengar dan mendengarkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2003: 1066), didapati pengertian menyimak yaitu mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Pada sumber yang sama (2003: 251), terdapat pengertian mendengar yaitu dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga. Sadar atau tidak, kalau ada bunyi, alat pendengar kita akan menangkap atau mendengar bunyi-bunyi tersebut. Kita mendengar suara itu tanpa ada unsur kesengajaan. Sementara, yang dimaksud dengan mendengarkan adalah mendengar akan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Dari pengertian masing-masing kata, kita dapat melihat perbedaan antara ketiganya. Proses mendengar terjadi tanpa perencanaan, dengan kata lain datang secara kebetulan. Sementara dalam menyimak, faktor kesengajaan cukup besar, lebih besar daripada mendengarkan karena dalam kegiatan menyimak ada usaha memahami apa yang disampaikan pembicara, sedangkan dalam kegiatan mendengarkan tingkatan pemahaman belum dilakukan. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Pintamtiyastirin (1983: 11) bahwa menyimak ialah mendengarkan dengan pemahaman atau pengertian, bahkan sampai ke tingkat apresiasi.

B. Tujuan Menyimak
Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.Menyimak memperoleh fakta atau mendapatkan fakta
2.Untuk menganalisis fakta
3.Untuk mengevaluasi fakta
4.Untuk mendapatkan inspirasi
5.Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri

C. Jenis-Jenis Menyimak
Perbedaan tujuan dalam kegiatan menyimak, menyebabkan adanya aneka ragam menyimak. Tarigan (2006: 35) , menggambarkan aneka ragam menyimak sebagai berikut:
1.Menyimak ekstensif
Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru. Menyimak ekstensif terdiri dari:
Ø  Menyimak sosial (social listening) atau menyimak konversasional adalah menyimak yang biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang mengobrol atau bercengkerama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang yang hadir dan saling mendengarkan untuk memuat responsi-responsi yang wajar, mengikuti hal-hal yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan oleh seorang rekan (Dawson, via Tarigan, 2006: 37).
Ø  Menyimak sekunder (secondery listening) adalah sejenis kegiatan menyimak kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif (extensive listening).
Ø  Menyimak estetik (aesthetic listening)ataupun yang disebut dengan menyimak apresiatif adalah fase terakhir dalam kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif.
Ø  Menyimak pasif (passive listening) adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan kurang teliti, tergesa-gesa, menghafal luar kepala, berlatih santai, serta menguasai sesuatu bahasa.

2. Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah jenis menyimak yang pelaksanaannya diarahkan pada suatu kegiatan yang lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Menyimak intensif terdiri atas beberapa jenis berikut.
Ø  Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupaya untuk mencari kesalahan dan kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara, dengan alasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat.
Ø  Menyimak kreatif (creative listening) adalah sejenis kegiatan dalam menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan oleh apa-apa yang disimaknya.
Ø  Menyimak eksploratif yaitu sejenis kegiatan menyimak intensif dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah dan sempit.
Ø  Menyimak interogatif (interrogative listening) adalah sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian, dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara, karena sang penyimak akan mengajukan sebanyak mungkin pertanyaan.
Ø  Menyimak selektif yakni menyimak yang dilakukan sebagai pelengkap kegiatan menyimak pasif guna mengimbangi isolasi kultural dan tendensi kita untuk menginterpretasikan kembali semua yang kita dengar dengan bantuan bahasa yang telah kita kuasai.
Ø   Menyimak konsentratif (concentrative listening) sering juga disebut a study-type atau menyimak yang kegiatannya sejenis dengan telaah.

Sumber: Sunarti dan Deri Anggraini. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta 

ARTIKEL GANGGUAN BERBAHASA GAGAP

ARTIKEL GANGGUAN BERBAHASA GAGAP Nama              : Hasna Nurjilan NIM                : A1D117008 E-mail             :  jilan091...