ARTIKEL GANGGUAN
BERBAHASA GAGAP
Nama : Hasna
Nurjilan
NIM :
A1D117008
E-mail : jilan0912@gmail.com
PENGANTAR
Bahasa merupakan alat komunikasi utama dalam kehidupan
manusia, karena tanpa bahasa kehidupan sosial antar individu yang membentuk
kelompok masyarakat sulit untuk dibina. Karena dengan bahasa manusia mampu
berkomunikasi dan bekerjasama (Kridalaksana: 2005:4). Proses berbahasa
bersifat kompleks dikarenakan proses dari berbahasa itu sendiri menandakan
berfungsinya berbagai organ yang mempengaruhi mekanisme berpikir, berbicara,
atau mengolah ide-ide ke dalam bentuk kata. Pengaruh besar dalam kegiatan berbahasa
yaitu terletak pada sistem kerja otak dikarenakan otak adalah sentral dari
seluruh kegiatan tubuh manusia. Jika sistem kerja otak terganggu, maka kegiatan
berbahasa pun akan terganggu.
Psikolinguistik sebagai bidang ilmu antardisiplin
antara psikologi dan linguistik memandang bahasa sebagai alat komunikasi yang
berasal dari hasil kerja otak melalui hasil pemerolehan dan pembelajaran
bahasa. Hasil kajian psikolinguistik banyak dimanfaatkan dalam memahami
pemerolehan bahasa pertama maupun dalam pembelajaran bahsa kedua, termasuk di
dalamnya permasalahan atau gangguan-gangguan yang terjadi pada hal-hal yang
berkaitan dengan bahasa maupun berbahasa. Salah
satu gangguan dalam berbahasa ialah gagap.
PEMBAHASAN
Gagap atau stuttering adalah berbicara yang kacau
karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang suku kata
pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu
kalimat dapat diselesaikan. Seringkali si pembicara tidak berhasil mengucapkan
suku kata awal, hanya dengan susah payah berhasil mengucapkan konsonan atau
vocal awalnya saja. Lalu dia memilih kata lain, dan berhasil menyelesaikan
kalimat tersebut meskipun dengan susah payah.
Menurut Tri Gunardi, S.Psi., gagap merupakan
suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan
adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta
jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara.
Kalau dalam komunikasi, gagap merupakan salah satu gangguan irama kelancaran (disritmia)
dalam tatanan ujaran.
Jadi, gagap merupakan suatu kondisi dimana si
penderita mengalami gangguan berbicara dengan indikasi tersendatnya pengucapan
kata-kata atau rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide
untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan
mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, hingga kegagalan dalam
mengeluarkan kata-kata.
Berdasarkan tipenya, gagap dapat dibedakan
menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Gagap
Perkembangan, Gagap perkembangan biasa terjadi pada anak-anak usia 2-4
tahun dan remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Kondisi gagap pada periode
usia 2 sampai 4 tahun merupakan keadaan yang masih wajar terjadi karena hanya
sebagian dari proses perkembangan bicara anak. Gagap ini muncul karena kontrol
emosi penderita yang masih relatif rendah serta antusiasme anak untuk
mengemukakan ide-idenya belum disertai dengan kematangan alat bicaranya.
2. Gagap
Sementara atau Gagap Ringan, Gagap sementara ini biasanya dialami
oleh anak-anak usia 6 sampai 8 tahun. Umumnya gagap jenis ini disebabkan oleh
faktor psikologis.
3. Gagap
Menetap. Gagap menetap ini terjadi pada anak usia 3 sampai 8 tahun.
Biasanya gagap ini disebabkan oleh faktor kelainan fisiologis alat bicara dan
akan terus berlangsung.
Terdapat 3 penyebab terjadinya gagap, yaitu: :
Ø Pertumbuhan. Gagap
umumnya terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Gagap yang muncul
merupakan bentuk keterbatasan dalam menyampaikan suatu maksud melalui bahasa
atau perkataan. Hal ini tergolong wajar dan akan hilang dengan sendirinya.
Ø Neurogenik. Gagap
neurogenik adalah gagap yang disebabkah oleh gangguan pada otak, saraf, dan
otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Kondisi tersebut dapat disebabkan
oleh kecelakaan atau penyakit, misalnya stroke.
Ø Psikogenik. Gagap
psikogenik tergolong jarang terjadi. Tipe ini gagap disebabkan oleh adanya
trauma atau masalah dalam pemikiran atau penalaran.
Solusi mengatasi gagap
v Terapi
bicara. Terapi ini berfokus pada mengurangi frekuensi munculnya gejala
gagap saat berbicara. Pasien akan diberikan arahan untuk meminimalkan munculnya
gagap dengan berbicara lebih perlahan, mengatur pernapasan saat berbicara, dan
memahami kapan gagap akan muncul. Terapi ini juga dapat menghilangkan
kegelisahan pada penderita yang sering muncul ketika akan melakukan komunikasi.
v Terapi
perilaku kognitif. Terapi perilaku koginitif bertujuan untuk mengubah
pola pikir yang dapat memperburuk kondisi gagap. Selain itu, metode ini juga
dapat menghilangkan stres dan rasa gelisah yang dapat memicu gagap.
DAFTAR PUSTAKA
Karkono, dkk. Produksi Kalimat Pada
Penyandang Gagap. Universitas Negeri Malang.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Indah, Nur Rohmania. 2012. Gangguan Berbahasa Kajian Pengantar.
Malang: UIN MALIKI-Press.